Konsistensi adalah suatu kata sederhana. hanya terdiri dari beberapa huruf saja, K-O-N-S-I-S-T-E-N-S dan I. Tapi apakah sesederhana itukah arti dari kata konsistensi itu sendiri? menurut saya tidak, entah anda. Saya tidak tahu pasti apa pengertian dari konsistensi. Yang jelas, konsistensi mutlak dibutuhkan dalam sebuah keprofesionalan dan sebagai salah satu senjata dalam menghadapi kemalasan (dalam hal ini konsistensi yang baik).
Tidak semua orang bisa menjaga konsistensi. Konsistensi layaknya perasaan, kadang sedih dan kadang gembira. Konsistensi juga seperti itu, kadang kuat dan kadang lemah. Tidak semua orang bisa mempertahankan konsistensi dalam alur yang kuat. Namun jika konsistensi bisa terus terjaga di alur positif, niscaya individu atau organisasi akan berkembang di jalur yang benar.
Sama seperti sebuah blog, jika anda menginginkan blog anda ramai dikunjungi, salah satunya adalah dengan konsisten mengupdate atau memberikan sesuatu yang baru bagi pengunjung. Hal itu juga berlaku dalam mencapai tujuan atau cita-cita. Konsistensi mutlak diperlukan. Persoalannya adalah, bagaimana menjaga konsistensi agar berada dalam trek yang diinginkan. Saya akan mencoba sedikit memberikan cara supaya konsistensi selalu berada di alur positif, yaitu menjadi orang ikhlas.
Ikhlas adalah segala-galanya. di zaman yang materialistis ini sulit menjumpai sebuah keikhlasan berada dalam diri seseorang, padahal ikhlas merupakan kunci pokok dari semangat hidup. Ambil contoh, anda bekerja keras dan penuh semangat dengan harapan mendapatkan kenaikan gaji atau jabatan dari perusahaan. Dan ketika tiba waktunya, ternyata perusahaan tidak mengapresiasi kerja keras dan semangat anda yaitu dengan menaikkan gaji atau jabatan, maka di tahun berikutnya anda pasti merasa malas atau paling tidak semangat anda menurun, tidak konsisten.
Namun jika anda menyandarkan suatu pekerjaan kepada keikhlasan, maka contoh di atas tidak perlu terjadi. Semakin kita ikhlas dalam bekerja, maka semakin kita bergairah untuk bekerja. Dengan ikhlas kita akan selalu ingat, bahwa kita melakukan pekerjaan adalah dalam rangka ibadah. Dan pekerjaan yang kita lakaukan tidak semua orang dapat melakukannya. Sebaliknya, semakin kurang ikhlas, maka kejenuhan menjadi semakin sering menerpa kita.
Tidak mudah memang mempelajari ilmu ikhlas ini. Butuh tawakal yang amat sangat, tapi itu bisa dipelajari, dengan banyak membaca, bertanya dan tentu saja pengalaman hidup akan sangat membantu kita untuk memiliki keikhlasan itu. Impossible is nothing.






















